Performance Dosen Dihadapan Mahasiswa, Mengenang Assoc. Prof. DR. MUH. Darwis Lannai, SE., MSi., Ak. CA.


RNCelebes.web.id, Makassar - Sejatinya, dosen di hadapan mahasiswa memenuhi syarat untuk memenuhi harapan mengubah cara berfikir mahasiswa dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945.

Untuk itu, dosen harus mengerti dan memahami perbedaan ilmu kependidikan, seni mengajar, teknik dan strategi mengajar yang efektif (pedagogy), metode pengajaran dalam mendidik (pedagogic) dan sikap atau pendekatan dalam mendidik (pedagogical). 

Mengajar dan mendidik itu tidak sama, mengajar (teaching) artinya: menyampaikan informasi berupa materi, sedangkan mendidik (educating) adalah membantu mahasiswa untuk berkembang, tumbuh dan memahami diri nya serta lingkungan sekitarnya.

Mendidik, fokusnya adalah pembentukan karakter, nilai dan kemampuan berfikir kritis.

Mendidik, melibatkan proses yang lebih holistik, tidak hanya semata menyampaikan informasi, tapi juga membimbing, menasehati, mengarahkan, mengapresiasi, melindungi, memahami dan mengasihi. 

Kesemuanya itu adalah tugas dosen sebagai ujung tombak kurikulum sistim pendidikan. 

Implementasi dan atau penerapan nya dihadapan mahasiswa juga mesti ditunjang dan ditopang oleh performance/tampilan luar yang meyakinkan (baca: pedagogical), karena sembrono menohok mindset peserta anak didik sama saja menghancurkannya. 

Performance dosen dihadapan mahasiswa mestinya mencerminkan betapa bergengsi, mulia dan terhormatnya profesi dosen itu, itulah sebabnya sehingga kepadanya dijanjikan amal jariah, amal yang mengalir terus pahalanya sejauh ilmu dan pengetahuan yang diajarkan itu dialirkan dan dikembangkan, walau pelakunya sudah tenang diliang lahat, disisi Tuhan nya. 

Tentang gambaran performance dosen tersebut diatas mengingatkan penulis kira kira tiga atau empat tahun lalu. 

Saat itu di gedung FEB UMI, penulis menuju ke lantai tiga untuk maksud masuk dikelas mengisi jadwal mendidik mahasiswa, penulis menggunakan tangga berdiri kokoh tegak lurus yang dikendalikan oleh nafsu dinamo dan gulungan tali rantai baja.

Di bagian dalam tangga itu, tak sengaja angka 2 yang tertindis membuat pintu nya terbuka buat keluar ke lantai dua, tiba tiba saja dibibir pintu tangga moderen itu terdengar ada suara dosen mendayu dayu mengajar di aula Prof.Dr.H.Abdurahman A.Basalamah, SE.MSi., saya penasaran dan terkesima mendengarnya dari kejauhan.

Aula itu saya dekati walau hanya nguping saja di balik jendela sekedarnya, sesekali penulis membuang pandangan kedalam ruangan aula yang dipenuh sesati mahasiswa akuntansi, tidak sedikit yang nampak rela berdiri karena yang hadir melebihi kapasitas aula, namun tetap tertib, begitulah bila ilmu dan pengetahuan itu disampaikan oleh dosen dalam bahasa seni dan bakat (aspek pedagogy dan pedagogicalnya terpenuhi).

Nampak dari luar, prosesi belajar mengajar yang berlangsung didalam aula disuasanai oleh suasana dialogis ilmiah dan menyenangkan, teduh bersinar, tak ada yang mencibir, tak ada yang mondar mandir, tak ada yang menyindir dan tak ada pula yang menghina hinakan dosen andalan itu, itu karena gaya dan seni berbicara nya (baca: _*retorika - pedagogy)*_ tanpa kesan buruk, tak ada kesan seperti baru belajar bicara di depan mahasiswa alias asbun. 

Konon katanya, _*Performance dosen*_ itu di dividio kan oleh mahasiswa atas permintaan dosen yang bersangkutan dan _*performa materi*_ yang disampaikan direkamnya pula, juga atas arahan nya, itu hak mahasiswa dan tidak boleh dilarang melakukannya. 

Hingga diujung waktu, semua nampak sumringah mencermati materi kuliah yang disampaikan pak dosen dalam bahasa tubuh/non verbal dengan kombinasi sempurna dalam diksi dan narasi yang sederhana, dipadu dengan metode anregogi yaitu metode pembelajaran yang dikembangkan oleh _*Maria Montessori,*_ seorang pendidik Italia.

Dosen yang mengajar di aula itu adalah bapak Assoc.Prof.Dr. Muh.Darwis Lannai, SE.,MSi.,Ak.,CA.

Dari luar aula saya melihat pak Darwis saat itu mengajar _*pakai dasi berbalut jas*_ jangkis, Pake Mike, menjelaskan sambil berjalan tenang dan pelan dari berbagai arah, pilihan diksi dan narasinya enak didengar dan mudah difahami, disini pak Darwis nampak berilmu, tak ada kesan dosen abal abal, tak ada penanda guru kaleng kaleng, yang ada adalah kesan _*full intelek.*_

Itu yang membuat penulis saat itu dari luar aula mengacungkan dua ibu jari "Dua jempol" kepada pak Darwis sebagai bentuk rasa salut dan kejujuran intelektual dari penulis.  

Alhamdulillah, pak Darwis Lannai yang dikenal tegas, tidak suka basa basi, pelit bicara yang nirguna, itu karena satu perinsip yang dipegang erat yaitu: bahwa diam karena menghindari kesia-siaan adalah tasbih.*_

Pak Darwis kini telah naik pangkat, dari Lektor Kepala Associate Professor menjadi Guru Besar (Full Professor).

Mestinya, gambaran profesionalisme dan profesionalitas dijalur ke dosenan sejatinya tergambar seperti yang dicontohkan pak Darwis diatas. 

Adalah impian bagi semua untuk pada saatnya nanti, semua dosen hadir mendidik mahasiswa di ruangan (online/offline) dengan Performance tampilan luar yang meyakinkan, unsur pedagogy, pedagogic dan pedagogical nya terpenuhi, pakai dasi terbungkus jas, bicara Pake Mike untuk memantik perhatian penuh dari mahasiswa.

Sungguh amat menggembirakan dunia pendidikan tinggi bila semua dosen terlebih yang telah berpangkat guru besar full Professor hadir mengajar/mendidik dengan tanpa harus berspekulasi dan bersandiwara menutupi diri dari ketiadaan kemampuan berinteraksi dan berinpropisasi didalam kelas, dihadapan mahasiswa.

( Abbas Selong )
Mantan calon Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UMI
Lebih baru Lebih lama

Ads

Magspot Blogger Template

 



 


 

 


 


Magspot Blogger Template

نموذج الاتصال