RNCelebes.web.id, Makassar - Kecamatan Mamajang berdiri sebagai salah satu kawasan paling dinamis di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Dengan jalan-jalannya yang tak pernah sunyi, terus bergerak dengan arus perkantoran, kedai kopi yang selalu dipenuhi percakapan baru, serta pusat perbelanjaan yang menjadi magnet warga dari pagi hingga malam. Di dalamnya, ribuan keluarga dari beragam latar tumbuh berdampingan, menjadikan Mamajang sebagai potret kecil kosmopolitan Makassar.
Namun jauh sebelum deretan ruko dan lampu kota mengambil alih lanskapnya. Nama Mamajang menyimpan sebuah cerita yang lebih tua, kisah tentang seorang tokoh lokal yang kini diabadikan sebagai identitas resmi nama kecamatan.
Di tengah riuh modernitas Makassar yang terus melebar, Mamajang tetap memeluk sejarahnya sendiri. Yakni sejarah tentang pemukiman awal, kepemimpinan adat, dan sosok berpengaruh yang jejaknya masih bergaung hingga hari ini.
Sejarah nama Mamajang bukan lahir dari kebijakan administratif modern, akan tetapi tumbuh dari kisah seorang pemimpin masyarakat pada masa lampau. Karaengta Moajang, yang kemudian akrab disapa Karaeng Mamajang dan dikenal sebagai tuan tanah yang dihormati.
Sosoknya menjadi panutan banyak keluarga ketika berbicara tentang urusan adat, musyawarah kampung, hingga penyelesaian perkara sosial.
Di era ketika Makassar masih berupa gugusan kampung yang saling terhubung jalan tanah, figur seperti beliau memegang peranan penting. Tidak heran ketika pemerintah mulai membentuk struktur wilayah kota yang lebih modern.
Nama Mamajang terpilih sebagai identitas baru kawasan itu, sebuah bentuk penghargaan terhadap sejarah lokal yang tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Proses administratif pembentukan Kecamatan Mamajang bergerak seiring perubahan besar skala nasional. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 membuka jalan bagi lahirnya Daerah Tingkat II dan mengokohkan struktur pemerintahan di Sulawesi.
Dari kebijakan inilah Kotapraja Makassar mendapatkan bentuk administratif barunya.
Dua tahun kemudian, melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara Nomor 11 dan 2067 A Tahun 1961, pembagian kecamatan secara resmi disahkan, dan Mamajang ditetapkan sebagai salah satu wilayah baru.
Secara geografis, Mamajang memiliki posisi yang strategis di selatan pusat kota. Luasnya yang kurang lebih 2,25 kilometer persegi menjadikannya salah satu kecamatan dengan cakupan wilayah paling kecil di Kota Makassar.
Namun aktivitas yang ditampungnya melampaui ukuran tersebut. Dengan batas-batasnya yang tersusun jelas, yakni Kecamatan Makassar di utara, Rappocini di timur, Tamalate di selatan, dan Mariso di barat. Kepadatan penduduknya termasuk yang tertinggi di kota, sejalan dengan karakter kawasan yang penuh permukiman, pasar, sarana pendidikan, hingga pusat layanan masyarakat.
Camat Mamajang Andi Irdan Pandita, S.STP., M.Si.
Kecamatan Mamajang yang dipimpin oleh Camat Irdan naungi 13 kelurahan dengan ragam kondisi sosial mulai dari area kampung tua, hingga kawasan urban yang menjadi poros perekonomian baru, yakni Kecamatan Tamparang Keke, Sambung Jawa, Karang Anyar, Baji Mappakasunggu, Pa'batang, Parang, Bonto Lebang, Mamajang Dalam, Labuang Baji, Bonto Biraeng, Mandala, Maricaya Selatan, Mamajang Luar.
Adapun jumlah penduduk 58.293 jiwa.
Rinciannya, 28.632 laki-Laki dan 29.661 perempuan. Kecamatan Mamajang memiliki 279 RT dan 56 RW.
Pusat aktivitas ekonomi Mamajang membentang di sepanjang koridor Ratulangi, Veteran Selatan, Jalan Tun Abdul Razak, hingga Opu Daeng Risadju.
Di jalan-jalan inilah warung lama bersanding dengan usaha modern, toko material bertetangga dengan perbankan, dan gerai kuliner hidup dari pagi hingga larut malam. Olehnya itu, pemerintah berupaya menjaga nilai tersebut sembari mendorong pembangunan modern yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Makassar.
Salah satunya penguatan layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan aksesibilitas warga terhadap sarana publik.
Ia menekankan Mamajang harus mampu menjadi contoh kecamatan dengan layanan cepat, responsif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Terutama mengingat wilayah ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan dinamika urban yang terus bergerak.
Lebih jauh, Mamajang memiliki karakter unik, wilayah kecil, sejarah kuat, dan ekonomi yang berdenyut dari pagi hingga malam. Dengan semangat Karaeng Mamajang, tokoh yang namanya melebur menjadi identitas wilayah harus terus menjadi inspirasi dalam kerja-kerja pelayanan publik, yakni membumi, dekat dengan warga, dan berpikir ke depan.
Demikian di tengah laju modernisasi Makassar, Mamajang ibarat serpihan kota yang menyimpan narasi panjang. Dari jejak seorang tokoh lokal, hingga menjadi pusat urban yang padat dan produktif.
( Tim Red )

.jpg)







