Mengenal Prof. Dr. H. Mursalim Laekkeng ( Prof. Chaling )

Prof. Dr. H. Mursalim Laekkeng 'Prof. Chaling'
Calon Rektor UMI Makassar 

RNCelebes.web.id, Makassar - Dalam hiruk pikuk pemilihan Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar periode 2026-2030, saya berhenti sejenak untuk merenung: kriteria apa yang sebenarnya paling dibutuhkan UMI saat ini? Bukan sekadar popularitas, bukan pula janji manis. UMI butuh nahkoda yang paham denyut nadi kampus sekaligus paham tuntutan dunia luar.

Dalam konteks itulah saya mengenal Prof. Dr. H. Mursalim Laekkeng, SE., M.Si., Akt., CA., CPAi., CPA., CSP., CSRS., ASEAN CPA. Di kalangan kawan dan mahasiswa, beliau lebih akrab dipanggil "Prof. Chaling".

Deretan gelar dan sertifikasi di belakang namanya memang panjang. Tapi bagi saya, itu bukan pajangan. Itu adalah bukti perjalanan panjang seorang akademisi yang tidak puas hanya berhenti di ruang kuliah.

Beliau menempuh pendidikan formal hingga doktor, lalu melanjutkan dengan sertifikasi profesi akuntan tingkat nasional, internasional, bahkan ASEAN. Ada juga sertifikasi di bidang keberlanjutan, sesuatu yang hari ini menjadi bahasa wajib kampus-kampus maju di dunia.

Namun yang membuat saya semakin mengenal beliau bukan hanya gelar itu. Prof. Chaling juga dikenal sebagai seniman, khususnya dalam dunia vokal dan nyanyi. Ada sisi humanis yang jarang ditemukan pada akademisi bergelar setinggi beliau: beliau bisa serius membahas akuntansi dan keberlanjutan di ruang rapat, lalu malam harinya menghibur kawan-kawan lewat suara merdunya di panggung, yang saya ketahui arah pandangan yang selalu berpedoman dua tokoh besar di UMI, yakni Ayahanda Prof H. A. Basalamah dan Ayahanda Prof.H. Mansyur Ramli, yang menurut Prof.Chaling ke saya dua tokoh ini menjadi pioner kemajuan UMI Makassar. 

Disisi lain yang saya rasakan langsung adalah sifat beliau yang peramah dan senang menolong sesama. Prof. Chaling bukan tipe pemimpin yang sulit ditemui. Beliau terbuka, mudah diajak diskusi, dan ringan tangan membantu kawan maupun siapa saja yang datang meminta nasihat dan pertolongan. 

Dalam budaya Bugis-Makassar, sifat "Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge" itu sangat mahal. Dan saya melihat nilai itu hidup dalam diri beliau.

Saya melihat kombinasi ini sebagai modal besar bagi UMI. UMI hari ini menghadapi dua tantangan sekaligus: bagaimana mengelola kampus secara transparan, akuntabel, dan berkelanjutan; serta bagaimana melahirkan lulusan yang tidak hanya punya ijazah, tapi juga punya pengakuan profesi yang bisa dipakai bersaing di tingkat nasional dan ASEAN.

Dengan latar belakang akuntan dan _sustainability reporting specialist_, Prof. Chaling memahami bahasa angka, bahasa tata kelola, dan bahasa keberlanjutan. Tiga bahasa yang hari ini menentukan apakah sebuah kampus dipercaya publik, dipercaya mitra, dan dipercaya mahasiswa. Sementara dengan jiwa seninya dan sifatnya yang penolong, beliau memiliki modal untuk merangkul sivitas akademika, membangun kebersamaan, dan menciptakan iklim kampus yang hidup.

Jejaring profesi yang beliau miliki di Ikatan Akuntan Indonesia, serta pernah menjadi profersor termuda menjadi dia sebagai pertimbangan dan di tingkat ASEAN juga bisa menjadi pintu bagi UMI untuk membuka kerja sama yang nyata. Bukan MoU yang berhenti di atas kertas, tapi kerja sama magang, riset terapan, dan sertifikasi profesi bagi mahasiswa dan dosen UMI Makassar.

Saya juga berharap, jika diberi amanah, beliau bisa mendorong lahirnya pusat-pusat riset di UMI yang fokus pada persoalan riil di Makassar dan Sulawesi Selatan. Misalnya riset tentang akuntansi UMKM, pelaporan keberlanjutan perusahaan, atau keuangan syariah. Ini sejalan dengan identitas UMI sebagai kampus Islam yang ingin berkontribusi pada pembangunan daerah.
Tentu, gelar, seni, dan keramahan bukan jaminan kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan tetap diuji pada integritas, kemampuan mendengar, dan keberanian mengambil keputusan untuk kepentingan jangka panjang. Namun, saya percaya kombinasi kompetensi akademik, jiwa seni, dan sifat penolong yang dimiliki Prof. Chaling adalah fondasi yang kuat untuk membangun UMI yang lebih maju dan lebih manusiawi.

Sebagai teman, sahabat dan alumni FEB UMI angkatan ’91, saya hanya ingin melihat almamater saya tumbuh. Tumbuh dalam reputasi akademik, tumbuh dalam kepercayaan publik, dan tumbuh dalam kemampuan melahirkan lulusan yang berdaya saing.

Siapapun yang nantinya terpilih menjadi Rektor UMI, semoga membawa kampus ini semakin dikenal dan berkuasa, di dalam negeri maupun di luar negeri. Dan dalam diri Prof. Dr. H. Mursalim Laekkeng, (“Prof. Chaling”), saya melihat salah satu calon yang membawa bekal kompetensi, seni, dan hati untuk itu.

Astha Krg Laisa (Alumni FEB 91, Pengurus DPD Maung Sulsel, Ketua DPD PGR Kab. Maros
Lebih baru Lebih lama

Ads

Magspot Blogger Template

 



 


 

 


 


Magspot Blogger Template

نموذج الاتصال